“Divestasi Saham Freeport Indonesia dan Popularitas Jokowi : Dalam Pusaran Milenial di Tahun Politik 2018/2019”
“Divestasi Saham Freeport Indonesia dan Popularitas Jokowi : Dalam Pusaran Milenial di Tahun Politik 2018/2019”
Pengantar
Pemerintah merupakan sebuah lembaga yang salah satu
fungsinya adalah membuat kebijakan terhadap permasalahan yang ada. Menurut Woll
sebagaimana dikutip Tangkilisan (2003:2) menyebutkan bahwa kebijakan publik
adalah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah di masyarakat,
baik secara langsung maupun melalui berbagai lembaga yang mempengaruhi
kehidupan masyarakat. Dalam proses pembuatan kebijakan, pemerintah selalu
melibatkan berbagai macam aktor dan membutuhkan negosiasi di antara aktor-aktor
yang terlibat. Proses yang melibatkan banyak aktor ini kemudian menciptakan kontestasi
kepentingan yang ada di dalamnya, sehingga bukan tidak mungkin sebuah kebijakan
pemerintah dapat bermuatan politis.
Divestasi dan
Popularitas
Kebijakan divestasi saham PT Freeport
Indonesia merupakan kebijakan yang menuai banyak pro-kontra di masyarakat. Moin
(2004) menyatakan bahwa divestasi saham adalah menjual sebagian unit bisnis atau
anak perusahaan kepada pihak lain untuk mendapatkan dana segar dalam rangka
menyehatkan perusahaan secara keseluruhan. Divestasi saham Freeport di tahun
politik Indonesia 2018/2019 tidak hanya persoalan nasionalisasi perusahaan
asing, tetapi juga permasalahan kepercayaan publik terhadap pemerintah,
khususnya di rezim Presiden Jokowi. Berbagai media seperti kompas (27/9/2018)
mengemas pemberitaan dengan framing bahwa
Jokowi hadir sebagai sosok pahlawan yang telah membangkitkan marwah berdikari (berdiri
di atas kaki sendiri) Presiden Soekarno. Framing
yang dilakukan oleh berbagai media dapat membuat masyarakat tergiring opininya
dan mempopulerkan aktor tertentu, walaupun belum tentu data yang disajikan
adalah data yang benar.
Kaum Milenial
Opini publik merupakan sesuatu yang tidak
hanya terbentuk dari masyarakat, tetapi juga sesuatu yang terbentuk dari
kontruksi dari media, khususnya media sosial. Media sosial hari ini merupakan
sebuah platform bagi netizen (istilah : warga internet) tidak
hanya sebagai ruang sosial tetapi juga ruang politik. Kaum milenial merupakan
salah satu kaum yang aktif nyinyir (istilah
: berkomentar) di media sosial. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU),
kaum milenial adalah masyarakat yang berusia 17 hingga 35 tahun dan jumlah kaum
milenial yang terdaftar dalam pemilih aktif di pemilu 2019 ada 40%. Wajar jika
pemilih milenial akan menjadi kunci di pemilihan umum 2019 dengan melihat
jumlahnya. Sehingga menjadi konsekuensi logis jika banyak tim kampanye dari
masing-masing pasangan calon memperebutkan suara kaum milenial.
Nalar Berpikir
Divdestasi
saham Freeport yang di lakukan pemerintah menuai banyak pro-kontra di
masyarakat. Walaupun pemerintah berhasil ‘merebut’ saham PT Freeport Indonesia
sebesar 51,2% lewat PT Inalum, namun hal itu baru sekedar Head of Agreement
(HoA) dan Pemerintah Indonesia tetap belum berdaulat atas Freeport. Berita yang
beredar di media sosial (Kompas,2018) cenderung menggambarkan bahwa tahapan HoA
adalah tahapan yang sudah selesai, padahal PTFI tetap masih milik PT Freeport
McMoran Inc karena belum adanya pembayaran dari pemerintah. Operasional PTFI
juga belum berganti dan masih dipegang oleh induk perusahaan PTFI, yaitu PT
Freeport McMoran Inc. Sehingga ketika pemerintah mengklaim bahwa pemerintah
sudah sah merebut saham Freeport menjadi kurang tepat dan terkesan ingin
mempopulerkan Jokowi di tahun politik.
Permasalahan
Freeport tidak hanya sebatas siapa yang memilikI Freeport atau kepemilikan, tetapi
juga permasalahan lingkungan. Berdasarkan lembaga studi dan advokasi masyarakat
(ELSAM) selama 50 tahun beroperasi, masyarakat Papua menilai PT Freeport
Indonesia telah merampas lahan milik masyarakat adat di Papua. Hutan-hutan adat
milik masyarakat Amungme dan Kamoro dikonversi menjadi lahan tambang. Proses
ini dalam praktiknya menghasilkan limbah yang berpotensi merusak lingkungan
hidup di wilayah Timika. Jika pemerintah memiliki saham 51,2% terhadap Freeport
tetapi dalam praksisnya tetap mengamini pelanggaran HAM dan lingkungan, maka
bagi masyarakat sekitar tidak ada bedanya. Sehingga fokus isu tidak hanya pada
divestasi saham tetapi juga bagaimana mengelola Freeport menjadi lebih baik
kedepannya.
Klaim
pemerintah terhadap divestasi saham Freeport kemudian menjadi polemik, apakah
publikasi divestasi saham dilakukan karena memang secara prosedur sudah didivestai atau
sebenarnya klaim pemerintah adalah untuk meningkatkan popularitas Presiden
Jokowi sebagai salah satu calon presiden di pemilu 2019. Dampak dari klaim
pemerintah atas divestasi Freeport kemudian menjadi viral (istilah : populer)
di media sosial dan menciptakan opini publik (kaum milenial) terhadap Presiden
Jokowi. Penulis kemudian ingin meneliti lebih lanjut tentang klaim pemerintah
atas divestasi Freeport secara prosedural dan melihat efek dari publikasi atas
klaim divestasi Freeport terhadap kaum milenial, yang notabene adalah netizen
(warga internet) dan berjumlah 40% dari total pemilih yang ada.
Daftar Pustaka
Ekonomi.kompas.com/read/2018/.
Diakses pada tanggal 30 November 201 pukul 18.00
Hafiar, R. d. (2018). Dekontruksi Citra Politik dalam Media Sosial.
PRofesi Humas, 1-6
http://elsam.or.id/en/.
Diakses pada tanggal 30 November 2018 pukul 18.00
Tangkilisan, Hesel Nogi. 2003. Implementasi
Kebijakan Publik (Konsep, Strategi dan Kasus). Yogyakarta: Lukman Offset
YPAPI.
.
Mantap tulisannya
BalasHapus