Menakar Aktivisme Sosial
Berbasis Teknologi Informasi : Penggunaan Aplikasi Qlue di Jakarta
Pengantar
Aktivisme
Sosial merupakan segala upaya yang dimaksudkan untuk mengemukakan masalah
perubahan yang terkait dengan tatanan sosial (kemasyarakatan). Aktivisme
merupakan bagian penting di dalam perubahan sosial, setiap revolusi selalu di
dasari oleh aktivisme sosial sehingga membentuk jejaring yang kuat. Di era disruption aktivisme sosial tidak lagi
dilakukan dengan cara turun langsung ke lapangan atau penyebaran mulut ke
mulut, tetapi sudah menggunakan teknologi informasi yang sudah berbasis
internet. Orang kemudian memulai aktivitas sosialnya tidak harus bertemu dengan
orang lain, namun bisa dimulai dengan hanya membuka handphone. Fenomena ini kemudian mengubah tatanan sosial yang ada
di masyarakat dan menciptakan pola baru di masyarakat. Pola baru terhadap
aktivisme sosial membuat kegiatan sosial seperti berdiskusi, berjejaring,
berpartisipasi bisa dilakukan dan tanpa terbatas waktu dan ruang.
Aktivisme
sosial berbasis teknologi informasi sekaligus memudahkan masyarakat untuk
berpartisipasi dalam demokrasi. Masyarakat dengan mudah mengakses informasi
terkait dengan isu yang sedang berkembang di masyarakat dan merespon pada saat
itu juga. Kecepatan informasi dalam teknologi informasi mendorong partisipasi
masyarakat walaupun di satu sisi kebenaran informasi terkait sebuah isu juga
diragukan. Semakin maju teknologi informasi di Indonesia juga bisa berdampak
buruk, ketika demokrasi tidak diimbangi dengan pemahaman terhadap demokrasi itu
sendiri maka akan tercipta istilah democrazy.
Situasi democrazy merupakan situasi
dimana masyarakat kegilaan demokrasi dan saling hujat – menghujat hanya karena
perbedaan pandangan.
Dalam
alam demokrasi sekarang ini, tentunya kerahasiaan, transparansi, kejujuran dan
keadilan, kecepatan, dan ketepatan informasi yang berkaitan dengan kegiatan
demokrasi seperti pemilu, pilpres dan pilkada mutlak dibutuhkan. Tentunya
informasi sekrang ini lebih mungkin dapat diakses dengan teknologi. Dalam
bentuk teknologi elektronik, kampanye muncul ditelevisi maupun radio, tanpa
meninggalkan media cetak sebagai teknologi pendahulu. Memang, kehadiran
teknologi elektronik dirasakan telah mempermudah cara orang dan partai
menyampaikan proram/kampanyenya. Tentunya perkembangan teknologi, khususnya teknologi
informasi dan komunikasi, diharapkan dapat menyemarakkan dan meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam kegiatan demokrasi tersebut diatas dan tidak
digunakan untuk kampanye negatif yang saling hina dan menjatuhkan lawan
politik.
Kasus
Penulis
dalam essay ini mengambi contoh kasus Qlue, karena penulis tertarik saat ada
seminar Polgovtalks membahas tentang
bagaimana menciptakan good governance
di Indonesia. Qlue sendiri merupakan aplikasi
yang dapat digunakan masyarakat untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di
Jakarta, seperti banjir, tindak kriminal, kebakaran, dan lain sebagainya.
Melalui aplikasi Qlue, keresahan atau keluhan warga akan direspon oleh
pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti. Qlue merupakan bagian dari program
Jakarta Smart City (Kota Cerdas) yang diluncurkan oleh Gubernur Basuki Tjahaja.
Qlue juga banyak memperoleh penghargaan di tingkat nasional seperti : 1.) 2015
Google Playstore "Karya Anak Bangsa" : Aplikasi Terbaik di Indonesia;
2.) 2015 Google Playstore : Dinominasi sebagai Aplikasi Lokal Terbaik; 3.) 2015
Free Magazine : Aplikasi Lokal Terbaik; 4.) 2016 Top 3 Over The Top (OTT)
Nasional oleh ATSI dan Kemenkominfo; 5.) 2016 Liputan 6 Awards nominasi Sosok
Inspiratif di Bidang Teknologi.
Teknologi
Informasi seperti Qlue secara cepat merubah aktivisme sosial masyarakat, karena
aplikasi Qlue sangat efektif dan efisien jika dilihat dari sisi waktu.
Masyarakat yang awalnya malas untuk berpartisipasi di dalam urusan publik atau
kebijakan publik karena memiliki beragam kesibukan lain serta keterbatasan
ruang dan waktu. Aplikasi Qlue kemudian memotong ruang dan waktu tersebut,
masyarakat tidak perlu repot – repot datang ke ke sebuah tempat untuk berpartisipasi,
namun hanya lewat handphone
masyarakat dapat berpartisipasi terhadap masalah publik. Dari sisi aduan
masyarakat, Qlue juga memotong hirarki struktur pelaporan sehingga masyarakat
tidak perlu menunggu lama jika ingin laporan atau aduannya diproses. Sistem
Qlue dapat dengan mudah memberikan kepada SKPD terkait jika ada permasalahan
yang berhubungan dengan SKPD tersebut tanpa perantara birokrasi yang lamban.
Ciri utama dari komunikasi pemerintah
Jakarta setelah menggunakan aplikasi Qlue adalah berorientasi kepada kebutuhan
warga. Pemanfaatan Qlue dalam komunikasi pemerintahan lebih diarahkan untuk
mengetahui informasi dari warga mengenai apa kebutuhan mereka. Aplikasi Qlue
memiliki perbedaan dengan aplikasi pelaporan yang lain, karena didesain spesifik
untuk pelaporan dengan klasifikasi kategori masalah yang jelas. Berbasis GPS,
setiap laporan juga jelas di mana titiknya sehingga langsung menjadi tanggung
jawab kelurahan atau daerah di lokasi tersebut untuk menindaklanjutinya.
Aktivisme yang dilakukan masyarakat kemudian bisa langsung diwadahi dan
diproses oleh pemerintah lewat aplikasi Qlue sehingga menciptakan pola
kebijakan yang buttom up.
Secara teknis banyak faktor – faktor yang
kemudian mendorong kenapa aplikasi Qlue dapat meningkatkan aktivisme sosial
(partisipasi) di dalam masyarakat :
1.
Tampilan yang
sesuai menyesuaikan trend masyarakat dan user friendly.
2.
Selain pelaporan,
Qlue juga memiliki forum yang menjadi tempat bagi penggunanya untuk berdiskusi
tentang berbagai terkait dengan isu publik
3.
Masyarakat yang
menggunakan Qlue dapat mengetahui dengan pasti follow up dari laporannya. Jika sudah dikerjakan ditandai dengan
warna hijau, sedang diproses ditandai dengan warna kuning dan belum dikerjakan
ditandai dengan warna merah.
Tantangan yang dihadapi oleh para aktivis
dan negara dalam menyikapi teknologi informasi (Qlue) adalah berita hoax atau berita palsu. Dengan masuknya teknologi informasi, maka
sudah menjadi konsekuensi logis bahwa keran informasi (informasi hoax) juga dibuka
selebar-lebarnya. Sehingga banyak masyarakat yang keresahan menilai mana
informasi yang benar dan salah. Kebenaran yang bias ini kemudian akan
mengkontruksi segmen – segmen masyarakat yang akhirnya akan menimbulkan
perpecahan di tengah – tengah masyarakat. Karena sistem Qlue menilai kinerja
pemerintah berdasarkan responnya terhadap aduan yang ada sehingga ketika
pemerintah merespon banyak aduan makan rating
nya akan naik.
Kesimpulan
Teknologi
informasi membuka keran selebar – lebarnya terhadap akses informasi, situasi
seperti ini mendorong masyarakat untuk lebih berpartisipasi di dalam urusan
publik. Namun, di satu sisi juga meresahkan masyarakat karena akan ada banyak
informasi yang bias kebenarannya. Hal ini kemudian membuat masyarakat semakin
terpolarisasi karena ketidakjelasan informasi yang mengkontruksi pemikiran
masyarakat. Pemerintah dalam konteks ini harus jeli dalam memilah – milah
informasi yang beredar di masyarkat, karena bisa jadi teknologi informasi yang
tujuannya adalah mendorong partisipasi masyarkat dan mencerdaskan masyarakat
justru akan terbalik dan akan membuat tatanan sosial masyarkat yang hanya
menilai sesuatu dari informasi pertama yang dia dapat.
Daftar Pustaka
http://www.thejakartapost.com/news/2014/12/16/jakarta-launches-smart-city-program.html diakses pada tanggal 6 Juni 2018 pukul 15.00
Indrajit, R.E.,
2000. Manajemen Sistem informasi dan
Teknologi informasi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Nasution, F.N.,
2004. Penggunaan teknologi informasi
berdasarkan aspek perilaku (Behavioral aspect). USU digital library.
http://qlue.co.id/qluemycity/ diakses pada tanggal 6 Juni 2018 pukul 12.00
Komentar
Posting Komentar